Life

Belitung 2017 – Udara dan Darat

Halo!

Selamat hari raya Idul Fitri 1438 H, ya. Semoga seluruh amalan baik kita selama Ramadhan diterima Allah SWT dan seluruh dosa diampuni. 

Hari kedua lebaran kemarin, 26 Juni 2017, aku dan bapak berangkat ke Belitung untuk mudik. Ibu dan kakak bersama oom berangkat ke Kebumen dengan mobil. Tidak perlu terkejut, keluarga kami beberapa kali mudik terpisah karena memang kedua destinasi mudik kami membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Dua tahun lalu, aku dan ibu ke Kebumen, sedangkan kakak dan bapak ke Belitung, karena beberapa hari selanjutnya aku harus berangkat ke Riau untuk KKN. 

Mengambil flight paling awal adalah salah satu favoritku. Pertama, penerbangan belum terganggu jadwal lainnya sehingga kecil kemungkinan harus menunggu karena delay. Kedua, karena waktu perjalanan hanya +/- 50 menit, setibanya di Belitung, waktu sarapan pagi masih berlaku. Kami terbang dengan menggunakan maskapai Citilink Indonesia pukul 05.55 WIB. Penerbangan dibuka dan ditutup dengan pantun andalan kru kabin adik maskapai Garuda ini. 

Perlu diketahui, bapak dan ibu sebenarnya orang Jawa. Akan tetapi, bapak lahir dan besar di Belitung sehingga nenek dan saudara dari bapak banyak tinggal disana. Jadi, sebelum Belitung se-terkenal sekarang, aku sudah cukup familiar dengan destinasi wisata disana. Bahkan, sejak maskapai Merpati masih beroperasi dan melayani penerbangan CGK – TJQ.

Sebagai informasi untuk teman-teman yang berminat berlibur ke Belitung, sekarang, penerbangan ke Belitung sudah cukup banyak, kurang lebih 10 penerbangan setiap harinya dengan pemberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta. Maskapai yang melayani mulai dari Citilink Indonesia, Garuda Indonesia, Lion Air, Nam Air, dan Sriwijaya Air. Biaya yang teman-teman perlu keluarkan (sayangnya) tidak sedikit. Untuk penerbangan satu jam, minimal, teman-teman perlu merogoh kocek sekitar Rp1.000.000,- (jika low season) sampai Rp2.000.000,- (jika peak season) untuk penerbangan pergi-pulang. Perlu dicatat, harga ini fluktuatif, jadi pintar-pintar berburu tiket murah saja.

Sekarang, sudah cukup banyak paket tur Belitung 3 hari 2 malam. Harganya variatif. Karena aku tidak pernah mengambil paket tersebut, aku kurang paham dengan itinerary-nya. Menurut aku, keuntungan paket tur yang perlu ditekankan adalah, paket sudah termasuk penyewaan kendaraan untuk jalan-jalan, baik berupa mobil pribadi atau elf/Hiace. Alasannya utamanya adalah karena disini tidak ada angkutan umum. Warga setempat bepergian dengan motor atau mobil. Jadi, untuk solo-traveler, mungkin akan lebih baik mengambil paket tur dengan alasan kendaraan/transportasi. Ini opiniku, kembali ke preferensi masing-masing.

Setibanya di Belitung, jika tidak salah naik pesawat, kalian akan mendarat di Bandara H. A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung. Harap tidak terkejut melihat bandaranya yang kecil. Saat ini (sejak April, 2016), bandara sudah direnovasi. Mungkin akibat lonjakan pelancong ke Negeri Laskar Pelangi ini. Renovasi ini membuat bandara jauh lebih nyaman. 

Untuk menuju penginapan, teman-teman bisa naik black taxi atau taksi pelat kuning. Harga black taxi bervariatif tergantung tujuan. Jadi, dulu sih, aku naik kendaraan tersebut bersama pelancong/masyarakat lain sesuai arah destinasiku. Misal, tujuanku ke Pangkal Lalang, maka aku akan naik bersama orang lain dengan tujuan daerah itu. Aku tidak akan diturunkan di tempat drop off, tetapi diturunkan di depan rumah langsung. Oh iya, kalau naik taksi pelat kuning, taksinya bukan burung biru. Taksi tersebut mobilnya Avanza dan berwarna silver. Biayanya kalau tidak salah ingat, untuk rute Bandara – Penginapan adalah sekitar Rp65.000,00. Aku kurang tahu dan sejujurnya tidak pernah naik taksi ini karena selalu dijemput keluarga ketika tiba.

Kalau sudah tiba di penginapan, silakan beristirahat dulu dan bersiap untuk perjalanan panjang berikutnya. Umumnya, paket tur tidak mengantarkan ke penginapan dulu tetapi langsung melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Belitung Timur, yang terkenal dengan kopi manggar, Rumah Bapak Ahok, Andrea Hirata, dan SD Muhammadiyah, Gantong. Perlu diingat, perjalanan ini sejauh 90 KM dari Tanjung Pandan dengan jarak tempuh selama (kurang lebih) 1 jam 20 menit dengan jalan beraspal, lancar, dan menyusuri hutan/lahan. Sudah terbayang sejauh apa?

Selamat menikmati pulau ini.

P.S. Aku akan menulis destinasi Belitung disini.

Standard
Life

Hidup, Tanda Tanya

Membuka mata
Bersanding dengan bebalnya angan
Apa yang harus kukerjakan?
Terbuai bersama lelah
menyahap mata kemudian.

Menjadi prajurit Ibukota
setelah senja karam
yang malu-malu menyapa rembulan.

Memburu reputasi,
mengubur mimpi-mimpi.
Teramat penat tanpa berhenti
bermain dengan percikan api
lalu mati malah berjumpa semu.

Pikiran beramuk.
Hidupku mapan,
berkecukupan,
tetapi kenapa masih merasa kurang?

Tuhan,
aku tidak ingin berbicara kepercayaan.
Sebenarnya aku ingin menanyakan,
apakah ini yang benar-benar aku inginkan?

Standard
Life, Untuk Seseorang

Distorsi

Inginku menyanggah sabda para ilmuwan langit
Bahwa bintang terdekat Bumi adalah Matahari
Menurutku, itu kau, sayang
Meski berjarak ratusan tahun cahaya (hati)

Pikirku memaksa
Harus segera membenci wangi tetes presipitasi
Menggantikannya dengan aromamu, yang nyatanya,
Lebih hangat dan menenangkan daripada Tuan Hujan

Sebelum kau percaya
Akan aku teriakkan seisi semesta
Aku bisa mendengar deru nafasmu dalam diam
Tak sanggup menahan degup jantung kala keduanya berderu
Yang perlahan meledak
Syukur tak satupun mati

Standard
Life, Untuk Seseorang

Berlindung Hujan Di Bawah Awan

Sedekat kala raga bersentuhan
Sejauh dasar samudera yang diarungi seekor semut
Memandang jiwa yang tidak pernah terusik
Wahai yang terkasih
Kapankah ini akan berbalik?

Rasaku ini memecah rembulan
Melemparku kembali ke daratan
Nyaris tewas tertimpa semesta
Merintih bersama gemuruh guntur
Tetapi kau belum sadar juga

Caci-maki menghujam diri sendiri
Menertawai aku dalam kenyataan
Yang berlindung hujan di bawah awan

Standard
Life, Untuk Seseorang

Aku, Kamu, Dan Tuhan

Jika aku bisa langsung mendengar suara Tuhan, banyak yang ingin aku tanyakan.

Satu, apa warna kesukaanmu? Biar kutebak, pasti biru laut. Karena aku suka laut. Ia menyimpan banyak hal misterius, tetapi bisa membuat hati senang. Begitu juga kamu, menyimpan banyak rahasia, tetapi ampuh membuat senyum tidak pernah hilang.

Dua, apa cita-citamu? Biar kutebak lagi, pasti mau jadi hantu. Karena setiap saat sejak hari aku mengenalmu, aku selalu merasa ada kekuatan mistis dalam hidupku yang selalu berhasil membuat aku merinding kegirangan.

Tiga, apa aktivitas kesukaanmu? Sini, kutebak lagi. Pasti kamu suka menjadi karang. Karena hingga sesaat sebelum aku bertemu denganmu, tidak pernah konsentrasiku terpecah seperti ombak yang kemudian terbelah dan terbang bersama setiap partikel alam kala itu.

Kalau aku benar, diam-diam saja. Banyak rahasia alam yang semestinya dijaga baik-baik. Biar rahasia kita bertiga, Aku, Kamu, dan Tuhan.

– L.M.R.

Standard
Life, Untuk Seseorang

Ruang Langit: Bahagia dan Dua Perasa

Baru-baru ini aku membaca cerita ciptaan Seno Gumira Ajidarma. Mengirimkan sepotong senja yang indah untuk Alina. Saat aku sendiri melihat senja, ingin rasanya aku mengirimkan juga untuk seseorang yang bahkan hingga saat ini aku tidak tahu kabar dan keberadaannya.

Sore itu, semesta menciptakan senja seperti pelangi, tetapi jelas bukan pelangi. Eloknya senja mengalir bersama darah dalam nadi. Bagai gemuruh, menghempaskan raga jauh ke dalam dunia khayal. Diam-diam aku memasuki angan. Potongan kenangan merantai pikiran.

Merangkai kepingan menjadi kegembiraan, lalu perlahan menjelma sebagai suatu kesedihan. Mengisi paksa setiap partikel dalam jiwa.

Bilakah sekali saja semua gejolak sirna? Bisakah suatu ketika beralih mengajarkannya tentang menjadi sosok perasa? Bisakah suatu ketika kita sama-sama merasa? Agar tatkala langit mengembalikan raga ke dunia, semua pilu lenyap, hingga tersisa bahagia dan dua orang perasa.

26 November 2016
Perihal rindu

Standard
Life, Untuk Seseorang

Peran Waktu, Kesempatan, dan Takdir

Aku dan kamu hidup dalam naskah yang disusun oleh Sang Narator. Masing-masing kita hidup dengan cerita yang sudah tertulis. Tetapi terkadang ceritaku dan ceritamu bisa saja ada titik temu.

Suatu hari kita bertemu tanpa sengaja, dalam kesempatan mengejar waktu. Aku berusaha menahan senyumku, tetapi (wajah dan sesuatu lainnya dalam diri) kamu memaksa. Kamu dalam biru tua, berdenim hitam. Yang berhasil membuat aku terpaku. Tapi hati dan detak jantung terus berpacu.

Kemudian, aku dan kamu berpisah. Ingin aku katakan, aku ingin dengar lebih, kabarmu, semua darimu. Tapi aku percaya ada hal lain-lain yang merupakan sekelompok variabel sekunder.

Telah lama dari saat-saat yang sudah berlalu, bahkan tidak jua angin meniupkan namamu ke dalam syaraf-syaraf di kepala yang bebal ini. Tapi kemudian Sang Sutradara mengaturnya lagi. Apik sekali.

Dalam hitam, dibalut cokelat. Tidak lupa dua mata tambahanmu. Berdiri mematung di pinggir jendela. Manis seperti gula-gula. Memaksa menahan diri untuk bersikap acuh adalah sebuah manifestasi pikiran yang sia-sia.

Satu, dua, tiga, dan tidak lama. Sesingkat dan sesederhana itu, bagai semu.

Dalam kalkulasi singkat Sang Waktu, aku dan kamu berpisah lagi. Kali ini bisa aku pastikan entah sampai kapan: hingga nanti akhirnya Sang Pembuat Naskah mempunyai satu episode kehidupan kala dua aktornya dipertemukan kembali. Hingga Sang Waktu, Kesempatan, dan Takdir memainkan peran masing-masing dengan baik.

Jakarta, 18 November 2016
Dari ruang teratas

Standard