Hidup, Tanda Tanya

Membuka mata
Bersanding dengan bebalnya angan
Apa yang harus kukerjakan?
Terbuai bersama lelah
menyahap mata kemudian.

Menjadi prajurit Ibukota
setelah senja karam
yang malu-malu menyapa rembulan.

Memburu reputasi,
mengubur mimpi-mimpi.
Teramat penat tanpa berhenti
bermain dengan percikan api
lalu mati malah berjumpa semu.

Pikiran beramuk.
Hidupku mapan,
berkecukupan,
tetapi kenapa masih merasa kurang?

Tuhan,
aku tidak ingin berbicara kepercayaan.
Sebenarnya aku ingin menanyakan,
apakah ini yang benar-benar aku inginkan?

Distorsi

Inginku menyanggah sabda para ilmuwan langit
Bahwa bintang terdekat Bumi adalah Matahari
Menurutku, itu kau, sayang
Meski berjarak ratusan tahun cahaya (hati)

Pikirku memaksa
Harus segera membenci wangi tetes presipitasi
Menggantikannya dengan aromamu, yang nyatanya,
Lebih hangat dan menenangkan daripada Tuan Hujan

Sebelum kau percaya
Akan aku teriakkan seisi semesta
Aku bisa mendengar deru nafasmu dalam diam
Tak sanggup menahan degup jantung kala keduanya berderu
Yang perlahan meledak
Syukur tak satupun mati

Berlindung Hujan Di Bawah Awan

Sedekat kala raga bersentuhan
Sejauh dasar samudera yang diarungi seekor semut
Memandang jiwa yang tidak pernah terusik
Wahai yang terkasih
Kapankah ini akan berbalik?

Rasaku ini memecah rembulan
Melemparku kembali ke daratan
Nyaris tewas tertimpa semesta
Merintih bersama gemuruh guntur
Tetapi kau belum sadar juga

Caci-maki menghujam diri sendiri
Menertawai aku dalam kenyataan
Yang berlindung hujan di bawah awan

Aku, Kamu, Dan Tuhan

Banyak rahasia alam yang semestinya dijaga baik-baik.

Jika aku bisa langsung mendengar suara Tuhan, banyak yang ingin aku tanyakan.

Satu, apa warna kesukaanmu? Biar kutebak, pasti biru laut. Karena aku suka laut. Ia menyimpan banyak hal misterius, tetapi bisa membuat hati senang. Begitu juga kamu, menyimpan banyak rahasia, tetapi ampuh membuat senyum tidak pernah hilang.

Dua, apa cita-citamu? Biar kutebak lagi, pasti mau jadi hantu. Karena setiap saat sejak hari aku mengenalmu, aku selalu merasa ada kekuatan mistis dalam hidupku yang selalu berhasil membuat aku merinding kegirangan.

Tiga, apa aktivitas kesukaanmu? Sini, kutebak lagi. Pasti kamu suka menjadi karang. Karena hingga sesaat sebelum aku bertemu denganmu, tidak pernah konsentrasiku terpecah seperti ombak yang kemudian terbelah dan terbang bersama setiap partikel alam kala itu.

Kalau aku benar, diam-diam saja. Banyak rahasia alam yang semestinya dijaga baik-baik. Biar rahasia kita bertiga, Aku, Kamu, dan Tuhan.

– L.M.R.

Ruang Langit: Bahagia dan Dua Perasa

Baru-baru ini aku membaca cerita ciptaan Seno Gumira Ajidarma. Mengirimkan sepotong senja yang indah untuk Alina. Saat aku sendiri melihat senja, ingin rasanya aku mengirimkan juga untuk seseorang yang bahkan hingga saat ini aku tidak tahu kabar dan keberadaannya.

Sore itu, semesta menciptakan senja seperti pelangi, tetapi jelas bukan pelangi. Eloknya senja mengalir bersama darah dalam nadi. Bagai gemuruh, menghempaskan raga jauh ke dalam dunia khayal. Diam-diam aku memasuki angan. Potongan kenangan merantai pikiran.

Merangkai kepingan menjadi kegembiraan, lalu perlahan menjelma sebagai suatu kesedihan. Mengisi paksa setiap partikel dalam jiwa.

Bilakah sekali saja semua gejolak sirna? Bisakah suatu ketika beralih mengajarkannya tentang menjadi sosok perasa? Bisakah suatu ketika kita sama-sama merasa? Agar tatkala langit mengembalikan raga ke dunia, semua pilu lenyap, hingga tersisa bahagia dan dua orang perasa.

26 November 2016
Perihal rindu

Peran Waktu, Kesempatan, dan Takdir

Aku dan kamu hidup dalam naskah yang disusun oleh Sang Narator. Masing-masing kita hidup dengan cerita yang sudah tertulis. Tetapi terkadang ceritaku dan ceritamu bisa saja ada titik temu.

Suatu hari kita bertemu tanpa sengaja, dalam kesempatan mengejar waktu. Aku berusaha menahan senyumku, tetapi (wajah dan sesuatu lainnya dalam diri) kamu memaksa. Kamu dalam biru tua, berdenim hitam. Yang berhasil membuat aku terpaku. Tapi hati dan detak jantung terus berpacu.

Kemudian, aku dan kamu berpisah. Ingin aku katakan, aku ingin dengar lebih, kabarmu, semua darimu. Tapi aku percaya ada hal lain-lain yang merupakan sekelompok variabel sekunder.

Telah lama dari saat-saat yang sudah berlalu, bahkan tidak jua angin meniupkan namamu ke dalam syaraf-syaraf di kepala yang bebal ini. Tapi kemudian Sang Sutradara mengaturnya lagi. Apik sekali.

Dalam hitam, dibalut cokelat. Tidak lupa dua mata tambahanmu. Berdiri mematung di pinggir jendela. Manis seperti gula-gula. Memaksa menahan diri untuk bersikap acuh adalah sebuah manifestasi pikiran yang sia-sia.

Satu, dua, tiga, dan tidak lama. Sesingkat dan sesederhana itu, bagai semu.

Dalam kalkulasi singkat Sang Waktu, aku dan kamu berpisah lagi. Kali ini bisa aku pastikan entah sampai kapan: hingga nanti akhirnya Sang Pembuat Naskah mempunyai satu episode kehidupan kala dua aktornya dipertemukan kembali. Hingga Sang Waktu, Kesempatan, dan Takdir memainkan peran masing-masing dengan baik.

Jakarta, 18 November 2016
Dari ruang teratas