Lewat Mimpi

e8fb367a-0de0-4e2c-8499-86530ef40e49
Sumber

Tepat satu bulan (bahkan lebih), Tuhan tidak mempertemukan dua insan. Beberapa kali aku kedatangan kamu dalam keheningan malam. Apakah pernah aku mendatangi dirimu di malam yang super-sibuk? Pernahkah kamu bahagia akan kedatanganku?

Ini entah ke-yang-berapa-kali kamu mendatangi aku malam-malam. Tanpa berbincang banyak, kemudian hilang. Aku kemudian menyadari bahwa kehadiran kamu hanya bisa lewat mimpi. Selebihnya, hanya aku yang diam-diam berharap bisa dihadiri kamu, tersenyum.

Ruang Langit: Bahagia dan Dua Perasa

love_quote__2_by_alpner-d64zk3u
Sumber

Baru-baru ini aku membaca cerita ciptaan Seno Gumira Ajidarma. Mengirimkan sepotong senja yang indah untuk Alina. Saat aku sendiri melihat senja, ingin rasanya aku mengirimkan juga untuk seseorang yang bahkan hingga saat ini aku tidak tahu kabar dan keberadaannya.

Sore itu, semesta menciptakan senja seperti pelangi, tetapi jelas bukan pelangi. Eloknya senja mengalir bersama darah dalam nadi. Bagai gemuruh, menghempaskan raga jauh ke dalam dunia khayal. Diam-diam aku memasuki angan. Potongan kenangan merantai pikiran.

Merangkai kepingan menjadi kegembiraan, lalu perlahan menjelma sebagai suatu kesedihan. Mengisi paksa setiap partikel dalam jiwa.

Bilakah sekali saja semua gejolak sirna? Bisakah suatu ketika beralih mengajarkannya tentang menjadi sosok perasa? Bisakah suatu ketika kita sama-sama merasa? Agar tatkala langit mengembalikan raga ke dunia, semua pilu lenyap, hingga tersisa bahagia dan dua orang perasa.

26 November 2016
Perihal rindu

Peran Waktu, Kesempatan, dan Takdir

the-bad-news-is-time-flies-the-good-news-is-youre-the-pilot

Aku dan kamu hidup dalam naskah yang disusun oleh Sang Narator. Masing-masing kita hidup dengan cerita yang sudah tertulis. Tetapi terkadang ceritaku dan ceritamu bisa saja ada titik temu.

Suatu hari kita bertemu tanpa sengaja, dalam kesempatan mengejar waktu. Aku berusaha menahan senyumku, tetapi (wajah dan sesuatu lainnya dalam diri) kamu memaksa. Kamu dalam biru tua, berdenim hitam. Yang berhasil membuat aku terpaku. Tapi hati dan detak jantung terus berpacu.

Kemudian, aku dan kamu berpisah. Ingin aku katakan, aku ingin dengar lebih, kabarmu, semua darimu. Tapi aku percaya ada hal lain-lain yang merupakan sekelompok variabel sekunder.

Telah lama dari saat-saat yang sudah berlalu, bahkan tidak jua angin meniupkan namamu ke dalam syaraf-syaraf di kepala yang bebal ini. Tapi kemudian Sang Sutradara mengaturnya lagi. Apik sekali.

Dalam hitam, dibalut cokelat. Tidak lupa dua mata tambahanmu. Berdiri mematung di pinggir jendela. Manis seperti gula-gula. Memaksa menahan diri untuk bersikap acuh adalah sebuah manifestasi pikiran yang sia-sia.

Satu, dua, tiga, dan tidak lama. Sesingkat dan sesederhana itu, bagai semu.

Dalam kalkulasi singkat Sang Waktu, aku dan kamu berpisah lagi. Kali ini bisa aku pastikan entah sampai kapan: hingga nanti akhirnya Sang Pembuat Naskah mempunyai satu episode kehidupan kala dua aktornya dipertemukan kembali. Hingga Sang Waktu, Kesempatan, dan Takdir memainkan peran masing-masing dengan baik.

Jakarta, 18 November 2016
Dari ruang teratas

Pengalaman Pertama Ujian IELTS (2)

ielts-registration-39516
Sumber

Hari H. Proses tes dimulai dengan penitipan tas atau barang yang dibawa. Hanya boleh bawa KTP dan fotokopi KTP saja (seperti yang diinformasikan melalui email maksimal tiga hari sebelum tes). Untuk di British Council sendiri, minum, pensil, dan pulpen sudah disediakan. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengambilan dan penyimpanan data sidik jari beserta pas foto. Fotonya tidak boleh senyum dan menggunakan latar belakang warna putih, jadi mohon pemilihan warna pakaian disesuaikan, ya, teman-teman.

Memasuki ruang tes. Sudah ada nomor kandidat sendiri sehingga peserta tes tidak boleh asal duduk. Masuk ke tes bagian pertama: LISTENING. Dari empat bagian tes, tes ini yang aku rasa paling siap. Selama aku latihan di rumah, Alhamdulillah, selalu mendapatkan skor minimal 7 (berarti dari 40 soal, salah tidak lebih dari 10) — silakan dicari sistem penilaian IELTS. Soal ketika hari H juga sangat persis strukturnya dengan latihan soal Cambridge yang selalu aku gunakan. Mulai dari yang tingkat kesulitan rendah hingga tinggi. Selain itu, sebagai bentuk persiapan Listening, aku juga ingin sekaligus memenuhi hasrat penasaran akan debat Hilary Clinton dan Donald Trump di NBC dan juga penasaran akan episode terbaru The Ellen Show atau Jimmy Fallon. Padahal, ketiganya American English.

Pada bagian ini, terdapat empat section dengan tingkat kesukaran yang bervariasi. Biasanya, section pertama dimulai dengan percakapan sederhana: berbincang dengan Customer Service Restoran, hotel, atau klaim asuransi. Beberapa kasus juga bisa percakapan antara dua orang yang hendak menyelenggarakan sebuah acara. Biasanya di section pertama, tipe soalnya berupa isian singkat meskipun tidak menutup kemungkinan bertipe pilihan ganda. Bagian kedua bisa berupa penjelasan Tour Leader, penjelasan peta lokasi suatu wilayah (misal: taman bermain), atau bisa juga tentang promosi sebuah paket wisata. Bagian berikutnya bisa berupa percakapan dua orang atau lebih mahasiswa yang sedang memutuskan akan penelitian apa untuk tugas kampus, bisa juga berupa percakapan dua mahasiswa yang sedang sharing kegiatan dunia perkuliahan mereka. Bagian keempat yang menurutku lebih rumit: mendengarkan seminar di kelas dengan mata kuliah tertentu atau introduction class suatu universitas untuk mahasiswa baru. Cukup sulit karena perbincangan dalam tempo lumayan bikin pusing hehe. Bagian pertama, kedua, dan ketiga biasanya dibagi lagi ke dalam dua bagian recording jadi kalian bisa sedikit lebih santai dalam pengerjaan dan diberitahu dalam recordingnya bahwa recording bagian ini untuk soal nomor berapa sampai berapa. Tetapi bagian keempat tidak ada pemberitahuan semacam itu dalam recording meskipun akan ada sedikit berhenti ketika menuju 6-8 soal terakhir. Umumnya, bagian empat tipe soalnya adalah pilihan ganda.

Untuk bagian Listening ini pada hari H, teman-teman memang dituntut sekali menjaga konsentrasi karena jawabannya ada di setiap percakapan dan bersifat implisit karena IELTS tidak hanya mengukur tahu atau tidak tetapi juga pemahaman. Struktur jawabannya juga runut sesuai sama isi percakapan. Misal, soal nomor 1 adalah nama belakang tokoh dalam recording dimana biasanya nama memang ditanyakan di awal kemudian selanjutnya nomor 2 tentang nomor telepon, nanti di recording habis nama urut ke nomor telepon atau ada perbincangan lain dulu sebelum telepon. Perlu teman-teman ketahui bahwa tidak jarang terdapat koreksi dari tokoh dalam recording, misal di awal tokoh menyebutkan nomor teleponnya 987654321 kemudian ia mengoreksi jadi 987653421. Jawaban yang benar umumnya yang sudah dikoreksi itu. Jadi harus jeli dan tidak gegabah. Kalau memang terlewat, teman-teman tidak perlu panik. Langsung pindah fokus ke soal nomor berikutnya.

Kemudian, di tes bagian kedua: READING. Bagian ini cukup jadi momok buat aku. Kenapa? Karena selama latihan, skorku tidak jarang mentok di 6,5 sampai 7. Jarang sekali tembus 7,5 atau bahkan 8, tidak seperti Listening. Untuk bagian ini, aku sering-sering membaca artikel di soal atau jurnal-jurnal internasional (yang memang sudah menjadi makanan setiap mahasiswa Psikologi, bukan?) Ditambah lagi, aku lumayan sering baca novel versi Inggris dalam bentuk ePub. Ketika hari H, dalam waktu 50 menit aku sudah bisa menyelesaikan semua soal. Cukup kaget, karena biasanya bisa lebih dari 1 jam! Aku pribadi merasa, artikel yang ada pada saat tes sebenarnya lebih mudah daripada soal-soal di buku-buku Cambridge 1-10. Intinya, jangan diartikan satu per satu, tapi belajar untuk skimming. Corat-coret kertas diperbolehkan kok, jadi silakan kertas soal digaris-garis keywords yang kira-kira penting. Dari aku sendiri, kemarin membaca dulu tipe soal seperti apa dan bagaimana soalnya. Nanti cari keywords dari soal yang bisa aku lihat kemudian pindah ke artikel. Selanjutnya, aku baca artikelnya dan digarisbawahi apa saja yang kira-kira penting dan keywords mirip-mirip dengan di soal. Alhamdulillah, ternyata cara ini cukup berhasil buat aku karena tidak memakan waktu lama dan jawabannya cukup terpampang nyata. Perlu diingat bahwa setiap orang pasti memiliki style masing-masing, jadi temukan cara kalian yang paling nyaman.

Ohya, sebagai tambahan, section untuk Reading ada tiga section dengan setiap section terdiri dari 13-14 soal, dengan total keseluruhan Reading ada 40 soal. Terdapat beberapa jenis soal Reading: TRUE, FALSE, NOT GIVEN; YES, NO, NOT GIVEN; LISTS OF HEADINGS (FOR SOME CASES, YOU CAN USE THE ANSWER FOR MORE THAN ONCE); MULTIPLE CHOICE; WRITTEN ANSWER (WITH NO MORE THAN TWO OR THREE WORDS OR NUMBER). Setiap soal bisa saja memiliki cara menjawab yang berbeda-beda, jadi kalian harus membaca dengan teliti setiap instruksi soal dengan baik dan pastikan kalian memahaminya. Apabila soal 1-7 memiliki instruksi jawaban berupa TRUE, FALSE, NOT GIVEN tetapi kalian menjawab YES, NO, NOT GIVEN, jawaban kalian salah. Tidak lupa juga untuk memperhatikan huruf kapital atau tidaknya, misal ada isian singkat di awal kalimat. Di answer sheet kalian jangan lupa menggunakan huruf kapital, berlaku juga sebaliknya. Kemudian, misal instruksi menjawab adalah tidak boleh lebih dari dua kata. Jawaban yang sebenarnya adalah: college students tetapi kalian tulis all college students, maka jawabannya salah karena jawaban kalian lebih dari dua kata. Jadi sekali lagi aku tekankan harap perhatikan baik-baik instruksi pengerjaan.

Bagian ketiga: WRITING. Aku, entah siap atau tidak, tapi merasa, ya lumayan lah. Cara menghadapinya, aku selama latihan selalu membuat esai yang menurutku sempurna. Setelah esai dibuat (sebisa aku), aku baca lagi. Aku buat padanan kata yang lebih akademik dengan lihat Thesaurus di Oxford Dictionary. Selain itu, aku juga beberapa kali menulis Bahasa Inggris di blog pribadi. Entah benar atau tidak dari segi bahasa dan tata bahasa, yang penting mencoba dulu, hehe. Untuk Writing ini, peserta diberikan waktu satu jam dan tesnya terdiri dari dua bagian: menjabarkan isi grafik, tabel, atau proses, atau lainnya pada esai pertama dan menuliskan pendapat atau opini tentang suatu hal pada esai kedua. Bobot untuk esai kedua lebih besar daripada esai pertama jadi kemarin aku benar-benar mengerahkan sebagian isi otak untuk esai kedua dan akupun mengerjakan esai kedua terlebih dahulu. Aku mengerjakan esai kedua dalam waktu 40 menit dan esai pertama sekitar kurang dari 20 menit. Alhamdulillah, bisa diselesaikan semua.

Ingat, kalian hanya punya waktu 60 menit dan kalian harus menulis 150 kata untuk esai pertama dan 250 kata untuk esai kedua. Jangan habiskan waktu untuk menghitung berapa kata yang sudah kalian tulis! Untuk itu, perbanyaklah latihan dan tidak lupa untuk melihat, kira-kira selama latihan kalian butuh menulis berapa line untuk bisa mencapai 150 dan 250. Harap diperhatikan bahwa answer sheet di IELTS lebih lebar daripada kertas buku tulis pada umumnya, ukurannya sekitar folio, jadi aku sendiri merasa, satu line bisa 15 sampai 20 kata meskipun di buku tulis biasa hanya bisa 9 sampai 10 kata.

Dalam pembuatan esai, buatlah struktur kalimat yang berbeda-beda, misal tidak selalu Subjek-Predikat-Objek-Keterangan, tapi bisa gunakan Keterangan-Subjek-Predikat-Objek atau jenis lainnya. Empat hal yang diukur dalam penilaian Writing adalah Grammar, Cohesion (kalimat nyambung), Lexical Resources (perbendaharaan kata dan penggunaannya tepat), dan Task Achievement (semua soal dalam jawaban sudah terjawab). Soal esai pertama biasanya menjabarkan sebuah grafik atau tabel, mendeskripsikan sebuah gambar atau proses, dan bisa juga membandingkan dua tabel, grafik, atau gambar (melihat perubahan). Umumnya, kata-kata yang dipakai: increasing, decreasing, declining, upward trend, downward trend, growing, slightly, slowly, gradually, significantly, etc. Yang tentunya masing-masing berbeda tergantung kasus yang kalian dapat di soal. Soal esai kedua biasanya kalian diminta untuk menuliskan opini terkait suatu kasus yang bersifat general, contoh: (1) Free tuition fee for higher education, agree or disagree; (2) Animal hunting, pros and contras and what you think. Untuk soal esai dua, kalian harus jeli melihat pertanyaan yang kalian harus jawab demi memenuhi penilaian Task Achievement. Maksudnya, untuk kasus soal nomor (1), ada dua pertanyaan yang harus kalian jawab: AGREE dan DISAGREE meskipun kalian berada di stand point AGREE. Keduanya harus kalian jabarkan alasannya agar kalian tidak kehabisan ide. Beberapa laman pribadi yang sempat kukunjungi juga mengajurkan hal ini karena disisi lain, sebagai akademisi, akan lebih wise untuk tidak melihat di satu perspektif saja. Selain itu, kalian harus tahu ada tiga bagian penting dalam pembuatan atau penyusunan esai dua: 

  1. INTRODUCTION, kalian wajib menulis kembali kasus yang diberikan dengan melakukan parafrase. Wajib juga hukumnya untuk menulis thesis statement di akhir kalimat Introduction untuk menunjukkan stand point kalian. Kira-kira 3-4 kalimat cukup.
  2. PARAGRAPH, bagian ini bisa terdiri dari 2 hingga 3 paragraf, disesuaikan dengan soal. Jika dapat pertanyaan dua, AGREE dan DISAGREE, gunakan dua paragraf dengan masing-masing 4-5 kalimat pendukung.
  3. CONCLUSION. Pada bagian konklusi, kalian bisa state lagi stand point kalian seperti yang kalian jelaskan di bagian Thesis Statement (paragraf Introduction). Dan summary dari keseluruhan esai kalian. Jangan lupa mengawali paragraf ini dengan kata-kata: To summarize, to sum up, to conclude, in conclusion, etc yang mengindikasikan bahwa ini sebuah ringkasan dan penutup.

Yang aku pelajari selama persiapan adalah kalian bisa buat sebuah framework, caranya:

  • INTRODUCTION : paraphrase the case given without changing its meaning, thesis statement.

  • PARAGRAPH 1 — MAIN IDEA: AGREE, WHY? (1) free education can support those who unfortunate financially; (2) …; (3) …

  • PARAGRAPH 2 — MAIN IDEA: DISAGREE, WHY? (1) government has to develop other sectors other than education; (2) …; (3) …

  • CONCLUSION : To sum up, ….

Untuk (1); (2); (3) pada PARAGRAPH adalah outline-outline yang nantinya akan kalian jadikan sebuah kalimat pendukung suatu paragraf, bisa mengapa kalian AGREE dan mengapa kalian DISAGREE. Soal jenis (2) yang tentang Animal Hunting sendiri terdiri dari tiga pertanyaan: pro, kontra, dan pendapat pribadi kalian dimana ketiganya harus kalian jawab. Apabila pertanyaan terdiri dari tiga seperti kasus ini, maka gunakanlah paragraf 3. Harap diingat, membuat framework seperti ini mungkin rentan membuang waktu yang hanya 40 menit ketika periode tes jadi perlu banyak latihan agar bisa terbiasa dengan framework in mind.

Bagian terakhir: SPEAKING. Bagian ini yang bikin cukup deg-degan! Aku tidak pernah latihan sebelumnya, hanya sering self-talk dengan Bahasa Inggris. Berbicara Bahasa Inggris juga hanya kulakukan kalau sedang ngobrol dengan Director IHF. Ditambah lagi, saat hari H pun aku hampir terlambat tiba di lokasi! Bagaimana tidak, aku dapat bagian Speaking hari Minggu dimana hari Minggu banyak jalan ditutup karena ada Car Free Day. Lebih parahnya lagi, aku tidak tahu kalau ada Jakarta Marathon di tanggal 23 Oktober kemarin! Aku sampai menangis di Transjakarta. Ketika turun dari TJ, aku bergegas ke Kantor BC mengikuti Google Maps (di BEJ) dan bodohnya aku melihat Google Maps, bukan alamat yang diberikan di email konfirmasi. Ternyata BC sudah pindah ke Office 8 SCBD di bilangan Senopati. Allahuakbar, aku ingin menangis sekali rasanya karena itu sudah menunjukkan jam 09.05 dan jadwalku adalah 09.20 dimana kalau telat aku tidak bisa re-schedule. Tapi aku percaya hal-hal yang bersifat transedental meskipun memang sulit dipahami, tapi Pertolongan Allah itu Dekat. Bapak satpam SCBD bersedia mengantarku naik motornya ke Office 8 dan aku tiba pukul 09.15 di Office 8. Aku yang masih dalam keadaan panik dan tidak tenang karena terburu-buru langsung dipanggil masuk ke dalam ruang ujian. Pertanyaannya seputar “membuat kesalahan” dan aku ceritakan pengalamanku hari ini yang sama sekali tidak mencari tahu dulu adanya Jakarta Marathon ke Examiner-nya.

Bicara saja sepanjang-panjangnya tapi tidak lupa memperhatikan grammar (ini klise) dan juga jangan membuat perbincangan seperti robot, buat perbincangan seperti sedang situasi sehari-hari. Kenapa berbicara sepanjang-panjangnya? Karena examiner mau lihat penguasaan Bahasa Inggris kita dari skill percakapannya (katanya sih begitu). Pelajaran juga: cari tahu venue dan kegiatan apa yang akan diselenggarakan di jam tersebut ya kalau memang kasus kalian sama seperti aku (dapat hari Minggu di bilangan Sudirman). Seusai ujian, aku menangis karena merasa tidak maksimal karena masih tertekan selama ujian. Let God do the rest…

Aku harus menunggu selama 13 hari totalnya. Tidak nafsu makan, tidak nafsu ngobrol, tidak nafsu kemana-mana tetapi tetap harus mengajar di IHF. Sampai akhirnya hari ini tiba, 4 November 2016. Aku tidak minat buka langsung saat pukul 13.00 dan ternyata memang keluarnya baru 15.00 WIB hehe. Sebangun aku tidur siang, aku langsung Shalat Ashar dan berencana langsung membuka hasil melalui log in ID sewaktu mendaftar dan ternyata aku salah web… Akhirnya, memutuskan untuk menggenapkan doaku dalam Ibadah Maghrib. Selepas Maghrib, aku buka melalui website British Council Indonesia untuk pengumuman hasil tes.

Alhamdulillah, doaku terjawab: IELTS-ku berhasil memenuhi target. Aku selalu ingat pesan di setiap blog pribadi orang-orang yang pernah menempuh tes ini: Jangan pernah lepas doa dalam ibadah Tahajjud, Hajat, Dhuha, dan Shalat Fardhu. Jangan lupa sedekah dalam bentuk apapun karena semakin banyak memberi semakin banyak Allah memberi kita. Jangan pernah lupa, tidak ada yang tidak mungkin dalam kuasa Allah.

Dan di hari yang sama, Alhamdulillah aku juga lolos untuk magang di Program LAPOR! yang dikembangkan oleh UKP-PPP (Unit Kerja Presiden-Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan). KPK? Seperti yang sudah diduga: tidak lolos hehe.

Aku sangat bersedia membantu teman-teman kalau ada yang ingin tanya-tanya persiapanku IELTS atau bagaimana prosesnya lebih detil karena memang janjiku pada diri sendiri bahwa akan membantu teman yang lain jika hasilnya memenuhi targetku. So feel free to ask 🙂

Pengalaman Pertama Ujian IELTS (1)

ielts-registration-39516.jpg
Sumber

Hari ini hari yang sangat bersejarah buat aku. Hari ini, tiga pengumuman sekaligus, dirilis: hasil tes IELTS, hasil tes online seleksi KPK, dan hasil interview magang Program LAPOR! (Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat) yang dirilis oleh UKP-PPP. Cukup membuat jantung jungkir-balik, kepikiran, dan tidak nafsu makan untuk pengumuman yang paling ditunggu-tunggu: IELTS dan Program LAPOR! Untuk posting kali ini, aku akan cerita pengalaman mengambil IELTS dan betapa bikin deg-degannya tes ini.

IELTS (International English Language Test System) ini salah satu bentuk tes kompetensi Bahasa Inggris selain dari TOEFL dan Cambridge asesmen. Tes ini biasanya dipakai untuk beasiswa, mengajukan izin tinggal (khususnya di Inggris), atau mencari sekaligus mendaftar universitas (yang umumnya di Eropa). Umumnya, universitas mensyaratkan 6-7.5 tergantung jurusannya, misal teman-teman mengambil jurusan saintek, biasanya skor yang diminta 6.5 dengan tidak ada skor di bawah 6.0, atau misal jurusan soshum, syararnya skor seluruhnya 7.0 dengan tidak ada skor di bawah 6.5. Tentunya setiap universitas dan jurusan/program berbeda-beda, silakan disesuaikan. Apabila teman-teman memiliki keinginan untuk studi di Inggris, aku sangat menyarankan untuk mengambil tes ini daripada TOEFL meskipun beberapa institusi memang mengizinkan penggunaan TOEFL. Kenapa? Karena setahu aku, untuk pembuatan Student Visa Tier 4 UK membutuhkan IELTS Academic Test sebagai salah satu prasyarat berkas pembuatan visa. Jadi teman-teman bisa menebak sendiri motivasiku mengambil IELTS apa ya.

Ada dua jenis tes IELTS: Academic Test dan General Test, kalau sekarang ada juga yang IELTS for UK Visas and Immigration, detailnya silakan cari sendiri dan perlu yang mana, silakan disesuaikan dengan tujuan: pendaftaran universitas atau bagaimana. Bedanya adalah terdapat pada jenis soal untuk Reading dan Writing subtest. Ohya, tidak jarang juga, tes ini digunakan sebagai prasyarat untuk mendapat pekerjaan, biasanya multinasional yang mengharuskan calon kandidatnya punya skor IELTS tertentu. Kemudian, sistem penilaian IELTS pun berbeda dengan TOEFL iBT/PBT. Di IELTS, rentang skornya adalah 0-9. Umumnya, setiap instansi meminta skor IELTS tertentu untuk para calon kandidat. Cara penilaiannya bersifat round-up atau pembulatan ke atas. Misalnya, teman-teman mendapat skor Listening 7, Reading 7, Writing 6.5, dan Speaking 6.5. Jika ditarik, skor rata-ratanya adalah 6.75, tetapi untuk Overall Score nya karena menggunakan sistem round-up, teman-teman akan mendapat OA 7 (pembulatan ke atas 6.75 adalah 7). Begitu juga seterusnya.

Penilaian General Test dan Academic Test berbeda karena secara soal (khususnya Reading) memang lebih sulit karena Reading ada artikel ilmiah yang harus kalian jawab. Sebagai tips mendapat nilai 6.5-7 untuk bagian Listening dan Reading, aku menyarankan teman-teman yakin menjawab benar pada 28 soal, harus 28 soal kalau teman-teman memiliki target 6.5. Kalau target teman-teman 7, maka tidak boleh ada salah lebih dari 10. Lengkapnya untuk cara skoring, teman-teman bisa lihat ke IELTS Buddy di link yang ada di paragraf kedua terakhir post ini.

Aku sendiri, memang sudah diminta untuk mengambil tes IELTS oleh orang tuaku, terutama Bapak, sejak dari masih kuliah dulu. Akan tetapi, memikirkan biaya yang tidak sedikit, persiapan yang belum matang (untuk yang satu ini, menurutku, sampai kapanpun manusia akan merasa tidak siap sampai mereka dihadapkan dengan situasi nyatanya), dan juga perhitungan penggunaan hasil tes yang hanya dapat digunakan dua tahun setelah hasil keluar (atau tes dilakukan akupun lupa, mohon dicari sendiri). Maksudnya, kalau aku ambil saat masih kuliah, misal 2015, maka aku hanya bisa pakai hasil tersebut sampai 2017 sementara 2017 sampai 2018 ingin aku pakai untuk pendaftaran beasiswa dan kuliah Master S-2 di luar negeri. Jadi, berhubung tesnya juga mahal, teman-teman perlu mempertimbangkan dengan baik pro dan kontranya.

Akhirnya, percakapan tentang IELTS muncul lagi setelah satu bulan aku diwisuda (Agustus ke September). Bapak bilang kalau kompetensi Bahasa Inggris itu sekarang sangat perlu baik untuk lamar beasiswa, kuliah, atau kerja. Pokoknya, seakan sudah menjadi kebutuhan mendasarlah. Terlebih lagi, rencana hidupku yang sudah dibuat dengan cukup konkret-pun memang mendorongku untuk ambil IELTS paling lambat akhir tahun ini. Ditambah pula dengan percakapan pribadi dengan salah satu alumnus Erasmus Mundus di EHEF 2015 silam, “Hasil IELTS tidak selalu satu kali percobaan langsung goal. Jadi, ambil-lah secepatnya kamu siap (mental dan pikiran).” Kemudian, ba’da percakapan dengan Bapak, Ibuk juga mendorongku untuk segera mengambil tes kompetensi Bahasa Inggris ini. Setelah dinasihati untuk segera mengambil IELTS, terjunlah aku ke kenyataan: Sabtu, 22 Oktober 2016 akan tes IELTS di British Council Jakarta (lokasinya di The Akmani Hotel, Gondangdia).

Untuk di British Council sendiri, biaya yang dikenakan adalah Rp2.700.000,00. Pembarayannya melalui HSBC. Aku sendiri, kemarin membayar langsung ke Bank HSBC-nya di Cabang Rawamangun, dibantu Ibuk yang mendatangi cabang HSBC langsung, hehe. Untuk biaya sendiri, setiap instansi resmi (British Council, IALF, dan IDP Education) memiliki harga yang berbeda, kira-kira berbeda Rp100.000,00. Tingkat kesulitan? InsyaaAllah sama karena sama-sama diterbitkan oleh Cambridge (kalau boleh sok tahu sedikit).

Persiapan. Tidak ada persiapan khusus, bahkan tidak juga mengikuti persiapan IELTS menjelang tes. Bahkan aku tidak pernah benar-benar mengambil les Bahasa Inggris intens seperti teman-teman sekolahku dulu, yang mengikuti dari level 1 hingga lulus suatu kelas Bahasa Inggris tertentu haha. Tetapi memang aku sudah ambil IELTS Preparation Class pada 2014 lalu  di The British Institute Bekasi (Sun City Square). Itupun aku tidak pernah mengikuti mock test yang diadakan di pertengahan dan akhir semester karena aku selalu bolos di kedua jadwal ini sehingga aku tidak memiliki sertifikat dari TBI-nya haha. Setelah les selesai, persiapanku hanya latihan, latihan, dan latihan. Aku menyadari bahwa aku lebih getol belajar sendiri daripada di tempat les. Selama latihan sendiri, aku menggunakan buku Cambridge 1 sampai 10. Teman-teman bisa menambah referensi karena buku 11 dan 12 sudah terbit. Bahkan aku sudah menyisihkan sebagian honor membantu seorang dosen menganalisis alat ukur untuk beli buku Barrons, tetapi malah tidak terpakai karena terlalu fokus di Cambridge haha. Latihan pun hanya Listening dan Reading karena memang ada kunci jawaban yang menurutku objektif. Awal kali aku latihan, nilaiku untuk dua bagian ini tidak pernah lebih dari 6 atau 6,5. Sempat down, tetapi tidak sampai membuat putus asa banget. Dan setelah itu, tidak buka-buka lagi selama beberapa saat karena juga sedang banyak tugas dari kampus.

Aku buka-buka soal IELTS lagi saat setelah mendaftar tes. Aku latihan lagi secara intens, paling tidak dua latihan soal selama satu hari (Listening dan Reading saja). Untuk Writing, aku sesekali saja karena terkadang malas untuk mikir apa yang mesti ditulis. Tapi cukup sering melihat-lihat contoh skor IELTS Writing dengan Band 6,5 sampai 8 dan menulis tips dan trik dari website-website yang memang di desain khusus untuk latihan IELTS. Untuk web tersebut, aku sendiri sering pakai IELTS Buddy dan IELTS Simon. Aku juga sering menulis apapun yang berkaitan dengan padanan kata atau sinonim suatu kata yang sering dipakai untuk English for Academic Writing di notes kecil yang selalu aku bawa kemana-mana.Sebagai tambahan, aku sangat mengakui bahwa aku sangat terbantu selama tes dengan banyak latihan menggunakan buku-buku dari Cambridge ini.

Latihan intensif tadi juga sempat terpotong sekitar dua minggu karena aku harus mengikuti Ekspedisi Nusantara Jaya di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Ekspedisinya seminggu sih, tetapi seminggu kemudian masih malas ngapa-ngapain, haha. Sebenarnya sudah bawa buku latihan, tapi karena waktunya terbatas dan kelelahan sesampainya di mes, jadi tidak ada latihan sama sekali. Begitu juga setibanya di rumah…

Bersambung: Lihat kesini ya.

 

Be Quiet and Sit Down

Pada posting ini, aku akan cerita tentang pengalaman mengajar. Kejadiannya kemarin, Kamis, 27 Oktober 2016. Aku akan pakai kata ‘hari ini’, biar terkesan menulis buku harian, eh?

Hari ini, aku masih terlibat dalam perjanjian tidak tertulis: melunasi hutang puasa (hari ke-3 dari 8). Banyak? Iya. Harus dilunasi di tahun yang sama, sudah prinsip dari awal masuk kuliah. Malam sebelumnya, sudah wanti-wanti, harus sahur dan kenyang karena dua hari puasa sebelumnya, aku tidak sahur, hanya minum air putih.

Siangnya, seperti biasa, Shalat Dzuhur, tidur satu jam, dan siap-siap berangkat ke center di Cipinang. Alhamdulillah, tidak terlalu terik dan tidak terlalu melelahkan perjalanannya. Setiba di center, beberapa siswa langsung menghampiri dan salim. Menanti kelas Aflatoun selesai, mereka juga mengajakku melihat-lihat peta dunia. Sesekali ada pertanyaan tentang Geografi sederhana, “Kak, Indonesia yang mana? Kok kecil, ya, kak?” Dengan khidmat aku menjawab, “Iya, kalau di peta, Indonesia memang terlihat kecil. Tapi Indonesia itu kaya dan punya banyak sekali pulau.”

Jam 3. Jadwal mengajar di mulai. Tapi tidak juga terlihat batang hidung partner-ku mengajar hari itu. Tidak jugapun aku menerima pesan singkat darinya atau informasi dari Director tentang kehadiran atau tidaknya partner-ku hari ini. Mungkin telat, pikirku. Baiklah, tiga puluh menit tidak juga hadir. Aku mengajar sendiri. Kesabaranku bakal diuji, dalam waktu dekat, selama dua jam.

Materi hari itu adalah pengukuran. Aku ingin semua anak bisa bergerak bebas karena akupun bosan memberi mereka soal latihan. Aku ingin mereka belajar mengukur panjang dan lebar meja dengan telapak tangan, jengkal tangan, dan juga penggaris. Suasana gaduh sekali, seperti yang aku bilang di posting sebelumnya, melebihi 150 desibel! Aku pun pusing, suara sudah habis, ingin minum, masih puasa! Bingung harus mengembalikan atensi mereka bagaimana lagi. Ada yang jungkir balik lari kesana-kemari, pokoknya persis anak ayam lepas dari kandang.

Beruntung, Director IHF Jakarta, Kristine, selalu tanggap kalau situasi sudah di luar kendaliku. Aku selalu senyum-senyum saja kalau Kristine sudah menegur seisi kelas, senang bukan kepalang. “Kelas 2! Sit down, be quiet, and listen to Miss Lukita! Sit down and be quiet! Do you understand?” Aku membalikkan badan ke papan tulis, pura-pura menulis padahal tersenyum senang.

Kristine kembali. Anak-anak itu melihat ke arahku semua, “Kak, Miss Kristine ngomong apa barusan? Aku nggak ngerti,” dengan muka polos yang mengindikasikan ketidakpahaman bahwa mereka disuruh diam, duduk, dan mendengarkan materi yang aku berikan.

Shooing Burdens

quote-melody-beattie-live-your-life-fom-your-heart-share-117051_2

Looking at the windows of the train that evening, I met my eyes staring at me. And I started to have a self-talk with the other me in the windows.

Self, how are you? As she said from within the windows. I answered.

Not good but not bad either. This is my second month of losing my status as student and having a new one, as unemployed citizen. Frankly speaking, as a fresh graduate, I feel obligated to find a job, be an employee, and earn some money. But this month is also exactly my third month of being rejected by companies I applied for. As a result, my days are getting boring and boring. To be honest, I get sad easily very often and feel incompetent particularly when my application is not suitable for the position offered by companies yet I realize that when you apply for a position, you should understand that it is also about culture fitness. Do I think clearly or distantly?

Both. What are you doing now, unemployed? I smiled and replied.

For now, I am volunteering as a Math teacher for SD 1 and SD 2 in International Humanity Foundation (Jakarta Center, Cipinang, East Jakarta). I am one hundred per cent aware that being a volunteer from Bekasi to Cipinang is very challenging as it takes an hour to an hour and half from Bekasi to Cipinang, especially when the evening touches down and I go back home during the rush hour (either the passengers or the train lines). As I enjoy this programme, I slowly realize that this activity on weekly basis makes me alive as human being; I feel complete and actualized regardless my status as an unemployed. My Ibu and Bapak (parents) keep telling me that I maybe have not found the right job for now instead they want me to enjoy myself as an educator though through an informal way only. As Bapak said few times ago:

God must have plans for you by doing such things.

Seriously, do you teach now? I showed off my big grin.

At first, I never thought that I would teach elementary school students since, as you know well, I found it hard to interact with them. I disliked when they started to be the most annoying creatures on Earth by saying, “Kak… Kak…” (Ouch, I really wanted to put bad words here). But my innate tendency urged me to keep challenging my limit and get my butt out from my comfort zone: I decided to submit my resume to International Humanity Foundation that was looking for Math and Aflatoun (life-skill education) teachers via Indorelawan.org. My application was reviewed and I got email. I was asked to come to the center and the director of Jakarta Center that time told me that I could start from July, 11th.

Great. What do you feel now, self? I exhaled and continued.

It has been almost 4 months since the day that I made my first class, said hello, and introduced myself to them. There are about 23 students each class but if it is multiplied, their noisy level is more than 150 decibel. I have two partners in teaching, they are Lia and Anin. They (the students and the partners) are all good to me but I (or we) sometimes find it difficult to control them (the students). Here I learn about time and anger managements and the fact that all burdens and feeling of incompetent are all out when you share anything good to others. Maybe God wants me to share because I am worth it to and/or He wants me to learn more from people. I am firmly convinced that God knows but waits.

As it is proposed by Abraham Maslow that self-actualization is related to:

Being needs concerning creative self-growth, engendered from fulfillment of potential and meaning in life, cited from Psychology Today.

Cita, Cerita, dan Cinta*

2016-10-09 07.59.59 1.jpg

Satu Oktober. Memulai petualangan dengan berjumpa fakta bahwa kami harus melepas lelah di sebuah tempat ibadah yang luasnya bahkan tidak lebih dari seratus meter persegi. Pertama kalinya buat aku untuk tidur di tempat (yang nyaris) terbuka. Awalnya, terasa sangat rumit. Badan sakit, air sulit, perutpun melilit. Tetapi kemudian, semua begitu indah setelah menyadari aku akan melewati semua bersama dua puluh delapan pasukan lainnya.

Pulau Tidung Kecil kuanggap sebagai tempat yang tidak berpenghuni. Bagaimana tidak? Kalau malam, suara dengkuran tidur hanya dari kami, Para Pejuang Pemersatu Negeri. Kalau kami pergi, mungkin hanya tersisa sepi. Selebihnya, hanya ilalang dan hewan-hewan liar yang mondar-mandir mencari tempat melepas lelah di tengah pekatnya malam.

Di pulau ini, air tawar sulit sekali ditemukan. Aku banyak mengonsumsi air payau. Waktu KKN dulu, aku mengonsumsi air gambut, warnanya seperti Coca Cola tetapi rasanya seperti air tawar biasa. Kali ini berbeda, warnanya bening, rasanya pun tidak tawar. Air payau di mess kami memang tidak separah di Selatpanjang saat aku KKN dulu, tetapi cukup membuat resah, “Aku ini mandi buang-buang sabun saja atau memang sudah bersih?” Bukannya tidak beralasan tetapi karena air payau membuat sabun luruh semua, serasa tidak menggunakan sabun sama sekali. Tetapi bertahan dengan kondisi demikian selama sembilan hari, cukup membuktikan bahwa aku berhasil keluar dari zona nyaman sebagai orang daratan.

Setiap harinya, kira-kira setengah jam aku harus mengayuh sepedaku untuk menuju Pulau Tidung Besar, yang merupakan pusat kegiatan di Kelurahan Pulau Tidung ini. Meskipun demikian, letih seolah tidak terasa kalau aku sedang mengayuh melewati area Jembatan Cinta. Melalui jembatan ini, aku seolah-olah sedang berjalan di atas laut lepas yang biru, sebiru langit. Jembatan ini juga dipercaya bisa menyatukan cinta sepasang kekasih atau yang lagi pendekatan. Jembatan Cinta ini merupakan lokasi yang cukup ikonik buat aku. Bagaimana tidak? Bukan soal cintanya, ya, tetapi soal betapa kerasnya perjuanganku untuk mengayuh sepeda di area ini karena, bukan lagi harus melawan rasa malas, tetapi aku harus melawan angin. Pernah suatu ketika, aku harus membawa beberapa papan triplek. Kala itu, rasanya, semakin aku kayuh sepedaku, alamak, semakin aku terbang terbawa angin.

Selepas perjuanganku mengayuh sepeda, aku disambut hangat oleh masyarakat setempat. Ya, aku sangat mengagumi kearifan lokal masyarakat Pulau Tidung ini. Mereka ramah dan sangat terbuka oleh pendatang. Awalnya, aku pikir mungkin karena kami baru tiba tetapi di akhir periode pengabdian terlintas dalam pikiranku, di Jakarta bagian mana lagi aku bisa bertemu orang-orang seramah ini? Ada suatu cerita, saat sedang berkumpul dengan teman-teman SMK di sebuah saung pinggir pantai, salah seorang bertanya, “Kak, kakak dari Pulau Kelapa, ya?” Sontak aku tertawa, bahkan sekalipun aku belum pernah menginjakkan kaki di area Gugusan Kepulauan Seribu selain dari kesempatan ini.

Di lain kesempatan, saat aku sedang mengawal teman-teman SMK menanam bakau dan karang, aku pertama kalinya mencicipi snorkeling. Aku menyadari betapa indahnya pesona bawah laut dari Pulau Tidung. Mulai dari ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari hingga terumbu karang yang berwarna-warni. Di sisi lain, aku juga menyayangkan kalau biota-biota laut yang elok tersebut harus rusak akibat keegoisan manusia. Aku bahkan melihat bahwa banyak di antaranya patah-patah karena terinjak. Tidak hanya itu, banyak pula bakau yang tidak terawat, rusak terbawa sampah yang diantar ombak.

Banyak yang ingin kusampaikan tentang Ekspedisi Nusantara Jaya Universitas Indonesia 2016 ini, tetapi inti dari semua perjalanan ini ada pada sedikit kalimat yang aku kutip dari sini:

Memulai perjalanan dengan saling diam. Mengisi perjalanan dengan nilai-nilai kehidupan. Kemudian, mengakhiri perjalanan dengan bayangan, “Bilakah bersua kembali di masa depan?”

Artikel untuk keperluan laporan pertanggungjawaban pribadi ini ditulis oleh Lukita Mardhiah, salah satu peserta Ekspedisi Nusantara Jaya Universitas Indonesia 2016 yang baru saja lulus Agustus 2016 dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selama kegiatan, aku berperan sebagai salah satu anggota kelompok bidang Pendidikan dan bertanggung jawab pada kegiatan pembuatan papan imbauan.

*dengan (sedikit) perubahan.